Social Icons

Pages

Saturday, April 28, 2012

Segmentasi Pasar Brownies Tempe

Segmentasi Pasar Brownies Tempe





Kreativitas di zaman sekarang sangat dibutuhkan. Betapa tidak, menghadapi persaingan ekonomi yang semakin pesat, para pelaku usaha khususnya usaha kecil, hendaknya jeli mencari celah keluar dari keterbatasan. Seperti yang dilakukan oleh Anik Suryani misalnya. Pengusaha jajanan oleh-oleh dari Malang, Jawa Timur ini, menemukan terobosan baru bagi bisnisnya dengan memperkenalkan Brownies Tempe. Berburu oleh-oleh khas di Kota Malang setelah berlibur kinipun menjadi lebih bervariat. Mengenai alasan Anik menjadikan tempe sebagai bahan dasar brownies, ia mengaku terinspirasi dengan brownies kukus khas Bandung, Jawa Barat. "Di Bandung kan booming brownies kukus, nah saya buat brownies tempe," ungkap Anik.Ibarat gayung bersambut, terobosan Anik dalam membuat brownies kukus berbuah manis. Usahanya berhasil diminati masyarakat.
Adalah dapur rumah tempe Bu Noer di Jalan Ciliwung, Blimbing, Kota Malang yang menjadi  awal  proses pembuatan kripik tempe brownies atau roti bantat muncul. Sisa-sisa irisan tempe dan gorengan tempe yang tertinggal di penggorengan ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan dan campuran pembuatan brownies.Selain bahan-bahan brownies pada umumnya, seperti mentega, telur, tepung terigu, coklat bubuk dan cokelat batang, ada bahan tambahan di sini. Tepung olahan tempe dan sisa potongan dan penggorengan tempe yang membuat brownies ini berbeda
Proses pertama adalah mencairkan mentega dan dicampur cokelat bubuk dan cokelat batang. Baru kemudian adonan telur dan tepung terigu dicampur saat proses adonan mentega dan coklat yang telah mencair dicampur, baru terakhir tepung olahan tempe dan sisa potongan dan penggorengan tempe ditambahkan untuk menciptakan sensasi renyah.
Setelah seluruh bahan tercampur rata, adonan siap dicetak dalam loyang ukuran brownies. Proses selanjutnya, barulah dimasukkan oven dengan panas 150 derajat dalam waktu dua jam, brownies tempe baru matang.
Proses terakhir adalah menghias dengan larutan coklat putih yang dicairkan atau serutan keju diatas brownies tempe. Siapa menyangka, olahan tempe yang awalnya hanya memanfaatkan bahan yang tersisa dan untuk menarik anaknya yang enggan makan tempe, karya Bu Noer ini justru menjadi kudapan yang dicari para wisatawan yang berunjung ke Kota Malang, khususnya pada liburan sekolah dan akhir tahun ini.
Selain tidak lazim, sensasi rasa tempe khas Malang ternyata menggoda untuk menyantap brownies ini. Dengan harga jualnya yang cukup murah, Rp16 ribu per kotak, brownies tempe terus diburu. Jika pada hari biasa brownies tempe terjual hingga 300 loyang per hari, pada musim liburan seperti sekarang, brownies tempe terjual hingga 900 loyang atau tiga kali lipat peningkatannya.



SEGMENTASI UTAMA BAGI PASAR KONSUMEN
Geografis
Wilayah Geografis: Jawa, Bali, Sumatera,Kalimantan,Nusa Tenggara,Sulawesi
Kepadatan             : Kota,desa,pinggiran kota

Demografis
Usia                        :  7-12, 12-24, 25-40,40 tahun ke atas
Jenis kelamin         : Pria dan wanita
Penghasilan          : 50 ribu,100 – 500 ribu sampai 1 juta ke atas
Pendidikan            : Sd,smp,sma,sarjana,tidak sekolah maupun tidak kuliah
Agama                   : Islam;Katolik;Prostestan;Hindu;Budha
Kelas sosial           : Kelas Bawah,Menengah dan atas

Psikografis
Gaya Hidup           : Easy going, gaul, suka mencoba hal baru,expenditure
Kepribadian          : Berorientasi budaya, berorientasi pergaulan, berorientasi keluarga serta beriontasi luar rumah

Perilaku
Manfaat                 :  Kepuasaan,kualitas,ekonomi,citra
Sikap terhadap produk : Postif,antusias,puas
Status loyalitas     : Loyalitas Berat,loyalitas yang terbagi dan loyalitas yang bergeser



















0 komentar:

Post a Comment